Suara khas dari Delta Goodrem mengalun mendayu-dayu memenuhi ruangan distro-nya, Born to Try dari album Innocent Eyes. Baru dua minggu dia putus dari kekasihnya yang keras kepala dan pencemburu, lagu yang dinyanyikan oleh penyanyi cantik asal Australia itu malah membuatnya semakin terpukul.
Berulang kali berbagai macam pertanyaan terus mendera kepala Sara, selama ini dia tidak pernah bisa sungguh-sungguh mencintai seseorang. Tidak itu laki-laki atau perempuan, Sara sudah mencoba untuk berhubungan dengan laki-laki, tapi dia selalu menemukan jalan buntu. Menurutnya laki-laki kadang menuntut terlalu banyak, mereka kasar dan selalu berpikiran mesum. Laki-laki di mata Sara hanyalah mahluk tidak berguna dengan setumpuk pikiran kotor mereka dan hal-hal remeh lainnya.
Sedang perempuan, menurut Sara adalah mahluk paling menyenangkan dan mempesona. Sayangnya mereka terlalu rapuh untuk dicintai dan terkadang cinta mereka menuntut, bahkan cenderung berlebihan. Sara sudah merasa jenuh dengan itu semua, dia ingin merasakan cinta.
Cinta yang dikatakan orang buta dan menyesatkan, cinta yang mampu membuat seseorang melakukan apapun untuk orang yang dicintainya. Sara menginginkan cinta yang mampu membuatnya tunduk, mampu membuatnya tidak berkata-kata dan mampu membuatnya terdiam.
Tidak cinta yang selama ini ditawarkan mantan-mantan kekasihnya, mereka menawarkan hubungan sesaat, seks, penjara cinta, uang dan hal-hal menyebalkan lainnya.
Lagu itu terus memukul-mukul hatinya, membuat Sara kesal dan merasa tidak berguna. Dia sudah mengorbankan seluruh waktunya untuk mencoba mencintai mereka semua, tapi semua hubungannya hanya menghasilkan lubang besar di dalam hatinya.
Klining…
Bel kecil yang dipaku di pintu masuk distro-nya berbunyi nyaring, menandakan kalau seseorang masuk ke dalam distro miliknya yang terletak di daerah Dago, Bandung. Dengan satu tatapan maut dari Sara, dia berhasil membuat karyawannya langsung melompat dari tempatnya duduk dan menghampiri pelanggan mereka yang datang di hari Senin bolong seperti ini.
Lima menit kemudian…
“Cari mbak katanya.”
“Siapa?”
“Nggak tau, cuma pengen ketemu mbak aja.”
Sara langsung memikirkan hal terburuk, itu berarti satu dari sederet mantannya sedang berada di ruangan depan tokonya saat ini.
‘Apalagi yang dia mau sekarang?’ Gerutu Sara dalam hati, dia melangkah dengan langkah lebar-lebar karena kesal.
“Ya?” Sahutnya kasar.
Sosok yang berdiri di ruangan depan tokonya itu berbalik, Sara sama sekali tidak pernah mengenalnya secara langsung. Gadis itu bertubuh sintal dan tinggi, kulitnya putih bagai porselen, dengan bibir berwarna merah jambu. Dia mengenakan t-shirt hitam, jam tangan Bvlgari, celana jins dan sepatu kulit cokelat. Rambutnya berwarna hitam terurai dengan indah sampai bahunya, dan di balik bingkai kacamata bacanya tersembunyi sepasang mata berwarna biru cerah. Gadis itu tersenyum pada Sara yang sekarang terpaku di tempatnya.
“Sara kan?” Suaranya berat dan seksi, meninggalkan getaran emosi di hati Sara.
“Ya.”
Jantung Sara rasanya hampir melompat dari tempatnya, Sara menelan ludahnya tidak percaya dan kembali melongo. Dia tidak salah mengenali gadis itu dari salah satu situs pencari jodoh di internet. Mereka sudah menjadi dekat dalam dua bulan belakangan ini, Sara sama sekali tidak menyangka kalau ternyata gadis itu tampak lebih memikat aslinya, dibanding lewat foto.
“Astaga… aku nggak sangka kalau ternyata kamu cantik…”
“Ah… eh…” Sara hendak meninju dirinya sendiri yang mendadak menjadi bodoh dan gagu.
“Aku Aria… Aria Giovanni.” Jawab gadis itu sambil mengulurkan tangannya untuk mengenalkan diri.
“Bukan redrabbit_25.”
“Sara.”
“Aku tahu, bukan saragirl_needslove.” Jawabnya sambil tersenyum dan membentuk senyuman paling menggoda yang pernah dilihat Sara.
Sara berani bersumpah kalau ini kali pertama dalam sembilan belas tahun hidupnya dia merasa bodoh dan terpikat pada orang asing. Sentuhan tangan gadis itu membuatnya bergairah dan itu adalah ide yang buruk. Sara menggigit bibirnya, menahan keinginan di hatinya, ingin rasanya dia mencium bibir yang tersenyum padanya itu.
“Apa yang buat kamu sampe ke Bandung?”
“Aku ada kerjaan, dan kebetulan aku inget kamu tinggal di Bandung.”
“Kamu cari aku?”
“Kan kamu pernah bilang kalo punya distro di Bandung, namanya Ocean’s Blue. Tinggal tanya dan… here I am.”
“Ooh…”
“Punya waktu buat minum kopi?”
“Tunggu lima belas menit.”
“Oke.”
Gadis bernama Aria yang membuat Sara mabuk kepayang itu dipersilahkan untuk duduk di kursi yang di sediakan di tengah ruangan. Sementara Sara langsung menghilang di balik counter, dan gosip pun kembali merebak.
Sudah bukan rahasia lagi kalau Sara terkenal paling sering berganti pacar, tapi untuk laki-laki frekuensinya bisa dihitung dengan jari. Tipe Sara yang biasanya adalah para perempuan dengan gaya seperti laki-laki, terkesan lebih macho dan dominan, tipe butch. Tapi yang kali ini datang tidak kalah seksi dengan Barbie, entah kenapa tetap bisa membuat Sara terdiam.
“Kita mau kemana?”
Sara keluar dari ruang dalam toko dengan mengenakan babydoll putih berenda, celana jins ketat, sepatu dengan hak tiga senti, dengan membiarkan rambut cokelatnya tergerai. Aria tersenyum melihatnya.
“Kemanapun kamu menginginkannya.”
***
Mediterania Café, Kemang
Prasetyo Nugroho, dua puluh tujuh tahun di tahun 2007 ini dia menjabat sebagai Marketing Manager di PT.Rajabaju dan sampai saat ini masih jomblo. Mungkin karena tampang garangnya yang membuat para perempuan takut mendekatinya, padahal kan…. Nggak seperti itu juga, Tyo membatin dengan sedih. Seluruh keluarga besarnya sudah ribut ingin mencarikan dia istri, dan setumpuk foto gadis-gadis muda sudah diberikan padanya. Tapi tidak satupun bisa membuat hatinya tergugah, dia tidak menginginkan gadis cantik yang hanya bisa mendapatkan kata cantik saja. Gadis seperti itu sekarang ini sudah banyak.
Tyo menggigit rokok yang terselip di mulutnya, ingin menyalakan tapi rasanya malas sekali mengambil pemantik yang tersimpan rapi di dalam saku celana jinsnya. Malam minggu begini kenapa dia harus berkumpul bersama teman-temannya begini? Acara kencan buta lagi, akan lebih baik kalau dia berada di rumah, main komputer, nonton bola atau main Nintendo Wii, itu jauh lebih baik.
“Ketawa dong… lo kayak bocah manyun aja gitu.”
“Ini pelet gue, manyun.” Jawab Tyo malas.
Penyanyi di panggung mulai menyanyikan lagu-lagu mesra, Tyo hanya mendengarkan dengan malas sambil menyesap kopi di depannya dan terus memegang putung rokoknya yang belum nyala sama sekali.
“Mas, kalo di sini dilarang ngerokok loh… cuman Shisha aja.” Tyo memalingkan wajahnya dengan cepat untuk melihat siapa yang bicara, suara yang begitu menyenangkan untuk didengar.
Seorang gadis berdiri di depannya sambil tersenyum, sedang menunjuk rokok yang terselip di antara jari tangannya. Gadis itu cantik… bukan hanya cantik, tapi benar cantik. Tyo sampai melongo melihatnya, untuk kali pertama sejak jam lima dia berada di café Tyo memberikan senyumnya.
“Baru niat mau nyalain kok, belum dinyalain.”
“Kalo gitu jangan.”
“Oke deh…” Tyo tersenyum lebar, gadis itu sudah merengut seluruh perhatiannya.
Tyo sampai berdiri untuk melihat kemana gadis itu melangkah, kali ini dia percaya cinta pada pandangan pertama dan percaya pada film-film picisan di bioskop. Hatinya kali ini sudah menetapkan dengan siapa dia akan melalui sisa kehidupannya.
“Yo! Oy!”
Tapi Tyo sudah tidak mendengar ucapan teman-temannya lagi, matanya hanya tertumbuk pada seseorang malam itu. Tidak lagi akan mencari sosok lain, gadis itu begitu sempurna di mata dan hatinya yang sederhana.
Tyo menghela nafas, matanya terus memperhatikan gadis yang tadi menyapanya untuk tidak menyalakan rokok. Gadis itu duduk di kelilingi keluarganya, tertawa lebar, sungguh sempurna pikir Tyo.
Jantungnya tidak berhenti berdetak, terus saja berdetam berulang-ulang. Lagi dan lagi, sampai Tyo merasa sesak, takut jantungnya meledak saat itu juga sebelum dia sempat menyatakan betapa dia mencintai gadis ‘dilarang merokok’ itu.
Senyum terus terukir di wajah Tyo, sulit bagi Tyo untuk berhenti mengagumi diri gadis ‘dilarang merokok’ itu, matanya terus menatap gadis itu seutuhnya. Mencoba mencari cela di balik penampilannya yang sempurna.
Tiba-tiba gadis itu menoleh, tahu dia diperhatikan oleh seorang pemuda bodoh dalam acara kencan buta, gadis itu tertawa kecil sambil melambaikan tangan pada Tyo. Hal itu membuat Tyo langsung terjatuh dari kursinya, bukannya malu, tapi mata Tyo kembali mengarah pada gadis ‘dilarang merokok’ itu, sungguh dia sudah merasakan betapa cinta sudah membuatnya buta.
Tidak habis tertawa, gadis itu menggigit bibirnya sambil berjalan menuju Tyo dengan langkah anggun. Kemudian dia tersenyum dan membungkuk sambil mengulurkan tangannya.
“Namaku Aria… Aria Giovanni.”
“Tyo, Prasteyo Nugroho.” Tyo langsung menyambut uluran tangan itu, hampir saja meledakkan jantungnya.
“Sakit nggak?”
“Apanya?” Tyo bertanya bodoh.
“Badanmu. Jatuh ke lantai emang nggak sakit?”
“Nggak, soalnya liat kamu.” Bibir Tyo mengatakan sesuatu hal yang bodoh dengan begitu saja.
Gadis itu tersenyum padanya, Tyo bisa melihatnya tersipu, membuat lututnya lemas bukan main.
“Kurasa aku jatuh cinta pada pandangan pertama.” Jawab Tyo, lagi-lagi kalimat itu meluncur begitu saja dari dalam mulutnya.
Gadis itu malah tertawa, dia membenarkan rambut panjangnya yang berwarna cokelat, tampak malu. Kemudian tersenyum hangat, sambil menatap Tyo dengan kedua matanya yang bulat dan ramah, berwarna biru cerah yang mengagumkan.
“Mereka biasa memanggilku Aria.” Jelasnya.
“Aku Tyo.”
“Oke Tyo… senang bertemu denganmu.”
“Aku juga.”
Tyo kembali duduk di atas kursinya, lupa sama sekali dengan teman kencan butanya. Matanya terus mengikuti kemanapun sosok gadis ‘jangan merokok’ alias Aria itu melangkah, senyum terus terukir di wajahnya. Ingin dia menanyakan kemana lagi gadis itu pergi setelah ini, Tyo tidak ingin kehilangan gadis itu sama sekali.
Dia sudah menetapkan siapa yang akan menjadi pendamping hidupnya, dan dia tidak akan melepaskan gadis itu dari genggamannya.
Tidak akan.
Karena itulah Tyo memberanikan dirinya dan berjalan dengan gagah menuju meja di mana Aria dan keluarga sedang makan malam.
“Bisa kita bertemu lagi setelah ini?” Tanyanya sopan.
Aria tampak tidak percaya dengan keberanian yang dimiliki Tyo, cowok yang baru saja ditemuinya dan dikenalnya. Aria menatap kedua orangtuanya yang tampak sama kagetnya dengan Aria, tapi mereka mengakui keberanian pemuda itu. Tidak banyak lagi pemuda yang punya sifat gentleman seperti pemuda yang baru saja mereka temui ini.
“Ini nomor HP-ku.” Aria meraih tangan Tyo, kemudian menuliskan nomor HP-nya di tangan Tyo yang gemetar.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar